Sabtu, 26 September 2015

Haji 1436 H dan Penyerangan Al Aqsa, Momentum Revitalisasi Persatuan Ummat




Pada pelaksanaan haji 1436 H /September 2015, tercatat telah syahid (in sha Allah) sebanyak 876 Jamaah, diantaranya 107 jamaah meninggal tertimpa crane [1] dan 769  jamaah meninggal karena berdesak-desakan/terinjak [2]. Hal ini membuat otoritas Arab Saudi, yang dipimpin Raja Salman bin Abdulaziz ingin mengevaluasi pelaksanaan haji serta melakukan investigasi mendalam khususnya terkait kasus jamaah berdesakan di Mina.

Fitnah Bertebaran dan Desakralisasi Ibadah Haji/Umrah

Ditengah musibah yang terjadi, ada saja pihak yang ingin mengambil kesempatan dan keuntungan. Baik skala negara maupun skala individu. Tepat beberapa jam setelah kejadian, Iran yang dipimpin pemimpin spiritualnya, Ayatollah Ali Khamenei [3], langsung "menunjuk hidung" dan menimpakan seluruh kesalahan atas musibah jamaah yang berdesakan, kepada Saudi tanpa memberikan otoritas KSA kesempatan untuk melakukan investigasi terlebih dulu. belum cukup dengan "penunjukan hidung", media-media Iran serempak membuat berita yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Sebagai contohnya, presstv memberitakan convoy pangeran Muhammad bin Salman bin Abdulaziz sebagai penyebab stampede (baca : Prince Salman convoy triggered Hajj stampede: Report ) kemudian dibantah otoritas Saudi. Dan sedihnya, hal ini di amplifikasi oleh media Indonesia (lihat  [Metro TV] Mina Tragedy: Prince Salman Convoy Caused Hajj Stampede). Padahal, menurut pihak resmi penyelenggara haji iran sendiri menyatakan ada 300 jamaah haji Iran yang berbalik arah dibalik musibah desak-desakan di Mina (baca : مسؤول-في-البعثة-الإيرانية-الارتداد-العكسي-لـ-300-حاج-إيراني-وراء-حادثة-التدافع[4].

Fitnah lain yang menurut saya sangat "tidak lucu", pihak media Iran lain, alalam juga ikut menyalahkan otoritas Saudi atas kejadian musibah Mina karena penutupan jalan (baca http://www.alalam.ir/news/1742467 ) , setelah saya cek video tersebut adalah video lama 3 tahun lalu (dipost tanggl 31 oktober 2012, lihat تدافع الحجاج في محطة قطار المشاعر 1433 ). Dan masih banyak lagi berita berita yang tidak dapat dipertanggung jawabkan mengenai tuduhan ke pihak Arab Saudi yang bisa kita simpulkan sebagai bentuk fitnah kepada Arab Saudi.

Selain fitnah yang bertebaran, penulis sangat menyesalkan atas opini yang berkembang untuk mendesakralisasi Ibadah Haji sebagai ibadah yang sudah baku hukum dan tempat pelaksanaannya, karena adanya musibah terjadi pada pelaksanaan Haji, dibuatlah opini oleh pihak-pihak liberal yang memberi pesan negatif ke masyarakat "agar tidak perlu haji dan umroh lagi", padahal Ibadah Haji adalah satu rukun ke-islaman bagi seorang muslim.

Al Aqsa Merintih 
Sementara itu, di Bumi Palestina, Jerussalem. Mesjid Suci Al Aqsa masih terus diserang dan dirusak oleh Zionis Israel [5]. Kepiluan ini tertambah karena korban terus berjatuhan di pihak Ummat Islam (Palestina), info terbaru, dengan biadab dan sadis, tentara Israel menembak 10 kali Hadil Hashlamoun, gadis palestina berusia 18 tahun, terkena 10 kali tembakan [6]. Belum ada tindakan konkrit dari Dunia Islam terkait pelecehan dan perusakan mesjid yang pernah dijadikan kiblat pertama Ummat islam ini. Baru Raja Salman yang memperingatkan Israel atas serbuan ini [7], dan tentunya tidak ketinggalan Pemimpin Turki Erdogan dan Raja Jordan Abdullah [8], sedangkan, ironisnya, negara dengan Ummat islam terbesar di Dunia, Indonesia, belum ada penyikapan terkait nasib Masjid Al Aqsa di Palestina ini [9].

Momentum Revitalisasi Persatuan Ummat Islam 
Musibah yang terjadi di musim Haji 1436 serta perusakan Mesjid Al Aqsa yang semakin menjadi jadi dilakukan Zionis Israel, seharusnya dijadikan momentum persatuan Ummat  Islam. Dalam pelaksanaan Haji, negara-negara yang memiliki kepentingan mengirim warganya untuk berhaji dapat turut andil dalam pemantauan atau setidaknya ikut evaluasi bersama pelaksanaan Haji, Bagaimanapun, dua tanah suci (Al Haramain Mekkah dan Madinah) adalah milik bersama Ummat Islam, pihak otoritas Saudi pun membutuhkan feedback atau masukan dari negara mayoritas muslim.

Terkait penyerangan Masjid Al Aqsa oleh Zionis Israel, Ummat Islam harus melakukan terobosan baru, tidak cukup dengan konverensi atau seminar, tapi tindakan nyata secara bersama untuk melindungi Mesjid Al Aqsa, apakah dengan menghidupkan OKI yang selama ini eksistensi nya "antara ada dan tiada", dengan "membakar" semangat dan kepedulian negara-negara Islam, atau dengan menghidupkan satu payung yang kuat di bawah panji Tauhid "Laa ilaa ha ilallah Muhammad Rasulullah" yang selama ini telah mati hampir satu abad lama nya?

Riyadh, Ummul Hamaam,
27 September 2015
Aji Teguh P.


1. http://www.saudigazette.com.sa/index.cfm?method=home.regcon&contentid=20150912256373
2. http://www.aljazeera.com/news/2015/09/saudi-arabian-hajj-stampede-death-toll-rises-150926130030311.html
3. http://www.aljazeera.com/news/2015/09/iran-slams-saudi-arabia-hajj-stampede-150924140959859.html  (20:35 GMT). http://www.aljazeera.com/news/2015/09/pilgrims-

killed-hajj-stampede-mina-mecca-150924082302232.html (17:13 GMT).
4. http://aawsat.com/home/article/461006/%D9%85%D8%B3%D8%A4%D9%88%D9%84-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%A8%D8%B9%D8%AB%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%A5%D9%8A

%D8%B1%D8%A7%D9%86%D9%8A%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%B1%D8%AA%D8%AF%D8%A7%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%83%D8%B3%D9%8A-%D9%84%D9%80-300-%D8%AD%D8%A7%D8%AC-%D8%A5%D9%8A

%D8%B1%D8%A7%D9%86%D9%8A-%D9%88%D8%B1%D8%A7%D8%A1-%D8%AD%D8%A7%D8%AF%D8%AB%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%AA%D8%AF%D8%A7%D9%81%D8%B9#.VgXo-J2Cx2k
5. https://electronicintifada.net/blogs/ali-abunimah/video-why-israel-attacking-jerusalems-al-aqsa-mosque
6. https://www.rt.com/news/316252-idf-kills-palestinian-woman-hebron/
7. http://www.arabnews.com/featured/news/808031
8. http://www.timesofisrael.com/erdogan-to-un-take-action-against-israel-over-al-aqsa/
9. http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/15/09/19/nuwpz9377-alaqsa-diserang-jokowi-jangan-diam


Sabtu, 10 Januari 2015

Jangan jadi Muslim yang Gamang

source pict : facebook.com/themuslimshow

Islam adalah ajaran Rahmat bagi semesta Alam, mengajarkan dan menjaga kedamaian dengan penuh keadilan, baik muslim atau kafir.
Perilaku menghina ajaran islam ( Allah dan Nabi-Nya) adalah perilaku biadab dgn penuh kerendahan derajat manusia, intoleran serta memancing konflik.
Allah dan kesempurnaan ajaran Nya tidak butuh dibela, tapi seluruh Ummat islam yg bersyahadat setidaknya 9 kali (dalam shalat 5 waktu sehari) beriman kepada Allah dan beriman kepada UtusanNya Nabi Muhammad, wajib membela segenap kemampuan, bahkan dengan jiwa dan raga.
Perbuatan menghina nabi adalah salah, bukan berarti Ummat islam tidak boleh marah, bukan berarti tidak ada hukumannya dalam islam. dalam sistem Islam. Tercatat dalam sejarah, hukuman bagi  pelaku Penghina Nabi (istihza'ubiddin) adalah dibunuh seperti Ka'ab bin Al Ashraf.
Di sisi lain, perbuatan "main hakim sendiri" dalam konteks kekinian kepada para pelaku penghina Nabi dengan membom/menembaki, hanya akan menambah situasi Ummat Islam di negeri Mayoritas Kafir makin sulit dengan potensi Islamophobia, karena hukuman mati bagi para penghina Nabi (Islam) hanya dapat dilangsungkan dalam entitas Negeri Islam (Daulah Islam)
Ummat Islam harus marah dengan hinaan yg ditujukan kepada Nabi dengan menyalurkan kemarahannya di jalur yang sesuai, tidak kontraproduktif, sampaikan protes dengan social media, protes ke negara bersangkutan dg jalur diplomatik adalah bbrp contoh "melawan" hinaan dg efek mudharat (kalaupun ada) bagi ummat islam lebih kecil ketimbang hantam kromo para pelaku yang tinggal di negeri Kafir.

Jangan Gamang, perkuat Bashirah (ketajaman pandangan)

Salah satu karakter Rabbani adalah بصيرة بالسياسة وتدب (bashirah bissiyaasah wa tadbir) yaitu memiliki ketajaman sudut pandang dalam melihat politik (siyasah) dan keterampilan managerial. Ketika dihadapkan dengan berbagai kasus lokal maupun global yang melibatkan dunia Islam, janganlah mudah gamang terseret arus Media atau opini yang memojokkan Ummat islam. Perkuat dan perdalam ilmu agama (Aqidah, Tauhid, & wawasan keislaman) sebagai sandaran dalam berpijak. 
Kasus WTC 9/11, ISIS yang dinilai mencedarai Ummat islam, maupun kasus terbaru penembakan di Paris kepada kantor media Charlie Hebdo (sebagai media yang suka menghina Nabi Muhammad) jangan sampai memberi kegamangan kepada Ummat Islam. jangan mudah terpicu provokasi ataupun penggiringan opini, setiap individu muslim harus melihat kasus per kasus dari berbagai sudut pandang, dari berbagai sumber informasi kemudian pilah dan pilih yang memihak kepada kepentingan Ummat Islam. 

Adzab & Laknatullah bagi para penghina Nabi Muhammad shallahu'alaihi wa sallam
Allahu Musta'an
Aji Teguh Prihatno
Ummul Hamaam Riyadh, 11 Januari 2015
*tulisan ini merupakan perbaikan status di fb saya sendiri https://www.facebook.com/aji.teguh

Selasa, 23 September 2014

Black Forest, Cappucino, and Mixed Nationality






Black Forest, Cappucino, and Mixed Nationality
Serial #LivingInRiyadh

Di siang hari di saat suhu hampir menyentuh 40 derajat, setelah shalat zhuhur biasanya sy makan siang bersama teman-teman sesama WNI. Kali ini, hari libur Nasional saudi, kalau diistilahkan hari hari jadinya Saudi. Di bagian sy bekerja, tetap masuk ke kantor seperti biasa, Teman teman sesama WNI yang beda bagian (vendor) dg sy, mendapatkan hak nya untuk libur.

Sebagai pelipur lara krn tetep disuruh masuk kantor, sy putuskan coba ngemil sesuatu di dr.Cafe, yg terletak di lobby kantor, di bagian sy bekerja memang tidak ada hari libur, apapun itu, mau hari libur keagamaan apalagi hari libur nasional, yang ada hanya weekend, Jumat dan Sabtu, hak utk beristirahat di rumah. Meski sesekali pernah tetap ke kantor ketika ada issue di pekerjaan terjadi di kala weekend.

Ketika sudah di depan counter dr.Cafe,  sy pun fokuskan mata sy mencari cemilan yg yg sekiranya enak disantap, jatuhlah pilihan saya ke chocolate black forest.

"What do you want sir?" Kata pelayan dr.cafe yg sy kira org filipina. Banyak sekali warga filipina yg menjadi pelayan toko atau waiter

"Chocolate black forest" jawaban sy.

"Anything else?" si pelayan bertanya lagi, kali saja sy ada order lain

"Nope, enough" sy pilih utk ga beli minuman dingin krn msh sedikit batuk, tp mata masih mencari2 minuman yg pas di kala batuk

"I need cappucino" menu pilihan terakhir sambil  berharap minuman ini bersahabat dg batuk sy.

Kemudian si pelayan yg sy pikir org filipina menyapa sy sambil membuatkan Cappucino.

"Are you indonesian?" Tanya nya

"Yes" jawab saya singkat.

"I see from your hat, that's PKS" sambil melihat topi saya yg ada logo PKS nya, ada rasa penasaran, kok pinoy (sebutan warga filipina) tau ada yg namanya PKS di indonesia.

"Where do u come from? , filipina?" Sy Cecar krn penasaran

"No, I am mixed, my father from Padang (indonesia), my mother from Turkey" jawab nya.
Jawabannya cukup bikin sy terkejut jg, krn ternyata dia memiliki unsur darah indonesia yg sama dg sy, unsur asal yg sama dg tanah air yg sy lahir dr sana... utk bagian ini memang agak di dramatisir ya sodara sodara...

Setelah berkenalan, ternyata namanya Ahmad Gusti bin Suyati, dia tinggal di Istanbul, ibu nya kelahiran Ankara. Istri pak ahmad ini dari Ankara juga.
Ahmad pernah tinggal 2 tahun di Indonesia ketika SD, sehari hari ia berbahasa inggris dan turkish bersama keluarganya, mungkin karena inilah ia hanya bisa sedikit bahasa indonesia.

Di akhir perkenalan yang singkat karena ada pelanggan yang ia harus layani, ia memberikan sy segelas Cappucino gratis, "Just pay the black forest" katanya. "Alhamdulillah, dapet rezeki di siang hari". Kalau libur di rumah aja, pasti ga bakal dapet segelas Cappucino gratis nih. gumam sy dalam hati. Kesannya bahagia banget gitu ya dapet Cappucino gratisan. hehe.

"Thanks Mr Ahmad, see u again.." ucapan farewell setelah sy bayar 12 SAR utk kue black forest

Kemudian sy kembali ke cubicle dengan menenteng Kue black forest dan segelas Cappucino hangat.. yummy..

STC Compound, Riyadh,
23 September 2014


Note : 1 SAR : kisaran 3100 IDR

Senin, 18 November 2013

Press Release Pelatihan Media DPW PKS Arab Saudi


Pelatihan Media DPW PKS Arab Saudi

Riyadh, Sabtu (16/11). Perkembangan media dan dunia informasi kini sedemikian berkembang pesat dan terbuka, menjadi suatu kewajiban bagi para kader dakwah untuk turut serta berkontribusi aktif mewarnai jagat Dunia Maya. Diperkirakan lebih dari 2,5 milyar manusia di seluruh dunia menggunakan internet, serta lebih dari 145 juta warga negara Indonesia menggunakan jaringan internet, jelas bahwa dakwah tulisan melalui online menjadi satu sarana yang signifikan untuk menyebarkan nilai-nilai dakwah.

Dalam rangka menciptakan tim media yang profesional serta menyongsong kemenangan dakwah di Pemilu 2014, TPPLN (Tim Pemenangan Pemilu Luar Negeri) PIP PKS Arab Saudi, atau setingkat Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), mengadakan kegiatan pelatihan media. Acara ini dibagi dua gelombang, gelombang pertama diikuti oleh 10 kader ummahat (ibu-ibu), dan gelombang kedua diikuti oleh 20 kader ikhwan.

Pada gelombang pertama, 10 kader (Ummahat) diberi pelatihan Media online (Social Media) dan Media offline (buletin) yang diselenggarakan di sekretariat buletin Annisa bertempat di distrik Dir'iyah, Riyadh. Materi kegiatan ini disampaikan oleh Bapak Aji Teguh Prihatno, ST. Acara pelatihan gelombang pertama ini berlangsung dalam 2 sesi. Sesi pertama adalah pemaparan materi berjudul "Fungsi, Peran dan Tipe Media", kemudian dilanjutkan dengan materi bertema "Membuat Media Cetak dan Online". Pada sesi kedua ini, peserta tidak hanya mendengarkan namun sekaligus praktek mengerjakan tugas yang diberikan oleh pemateri. Tugas yang berupa pembuatan sebuah artikel yang layak muat di media cetak serta pembuatan akun twitter dan berlatih menggunakannya diikuti peserta dengan antusias dan bersemangat.

Pelatihan Media DPW PKS Arab Saudi batch 1


Sedangkan gelombang kedua, 20 kader (ikhwan) diberi pelatihan khusus Media Online (Social Media) yang diselenggarakan di sekretariat PIP PKS Riyadh, di district Ummul Hammam, Riyadh. Sesi pertama pelatihan pada gelombang kedua bertema "Fungsi, Peran dan Tipe Media", dan sesia kedua bertema "Optimalisasi Social Media". Acara di akhiri dengan makan bersama kader dengan menu Nasi Kabsa (ayam panggang khas timur tengah).

Pelatihan Media DPW PKS Arab Saudi batch 2


Semoga dengan diadakannya kegiatan ini dapat memotivasi para peserta untuk berdakwah melalui media serta menambah kualitas tulisannya sehingga terus menebar manfaat dan kebaikan bagi ummat. Sehingga semakin banyak pena-pena yang turut serta memenangkan dakwah ini.

Aji Teguh Prihatno
Ketua Media TPPLN (Tim Pemenangan Pemilu Luar Negeri) DPW PKS Saudi 

Sabtu, 27 Juli 2013

Harmoni Cinta di Negeri Padang Pasir | Ifthar Jama'i PIP PKS Riyadh




Panitia Ifthar Jama'i DPD PKS Riyadh
Riyadh - Jumat (26/7), Pusat Informasi dan Pelayanan Partai Keadilan Sejahtera (PIP- PKS) Riyadh atau setingkat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PKS, mengadakan Ifthar Jama'i (buka puasa bersama) di Distrik Dir'iyyah, Riyadh, KSA. 

Acara buka puasa bersama, yang merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh PIP PKS Riyadh, pada kali ini dihadiri sekitar 300 jamaah, terdiri dari Ekspatriat, pekerja industri, Rumah Sakit, Mahasiswa, dan juga ibu-ibu rumah tangga.

Tema Ifthar Jama'i kali ini, "Harmoni Cinta di Negeri Padang Pasir", yang merupakan representasi dari Slogan PKS "Cinta Kerja dan Harmoni" dalam bingkai bulan suci Ramadhan di Negara Saudi Arabia. Acara dibuka oleh ketua panitia dan ketua PIP PKS Riyadh, bapak Tejo Bawono.

Sebelum berbuka, panitia mengundang dua pembicara. Pembicara pertama, Bapak Tommy Firmansyah, MSc ,membahas "Suasana Ramadhan di Dua Benua (Eropa & Asia)" .Pak Tommy, sapaan beliau, yang pernah stay di Inggris selama 18 tahun, menceritakan bagaimana suasana Ramadhan di Negara Inggris,  negara yang kini populasi muslim-nya sebesar 5% dari jumlah penduduk Inggris atau sekitar 3 juta penduduk yang beragama Islam. Durasi puasa di Inggris selama 18 jam ketika musim panas, dan 7 jam ketika musim dingin. Sedangkan di Jazirah arabia, durasi puasa ketika musim panas berkisar selama 15 jam sehari. 

Kemudian acara dilanjutkan dengan berbuka waktu berbuka di Riyadh pukul 18:40 GMT+3 atau sekitar pukul 22:40 WIB. Ta'jil yang disediakan panitia berupa gorengan ala Indonesia, ada makanan khas saudi bubur Surbah dan gorengan Sambousa.

Setelah berbuka puasa, santap malam, dan sholat magrib, acara dilanjutkan dengan Teleconference dari Calon Anggota Dewan PKS daerah Pemilihan Luar Negeri, Bpk DR Taufik Widjaja untuk memaparkan profile dan visi misi nya, yang dilanjutkan sesi tanya jawab terkait kebijakan DPP PKS terhadap Diaspora dan bagaimana meningkatkan kesejahteraan Tenaga Kerja Indonesia. 

Pembicara kedua, Ustadz Munir Ridwan, Lc membahas "Napak Tilas Ramadhan para Salafus Shalih". Pada kesempatan ini, Ustadz Ridwan menceritakan bagaimana generasi Salaf (Sahabat, Tabi'in dan Tabiut Tabi'in) menjalankan ibadah Puasa Ramadhan. Rasulullah shallallahi 'alaihi wa sallam berbuka puasa dengan beberapa buah Ruthab (kurma muda) dan beberapa teguk air, ketika 10 malam terakhir beliau mengencangkan sarung, menjauhi istri-istrinya dan bersungguh-sungguh beribadah beritikaf di 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Ibnu Umar tidak berbuka puasa melainkan dengan fakir miskin. Malik bin Anas radhiallahuanhu meninggalkan aktivitas mengajarnya demi fokus membaca Al Quran. Imam Syafi'i mengkhatamkan Al Quran sebanyak 60 kali di bulan Ramadhan. 



Teleconference dengan CAD PKS, DR Taufik Widjaja

Kemudian acara Ifthar Jama'i ditutup dan panitia menyelenggarakan Shalat Isya dan Tarawih berjamaah. 

Dokumentasi : 


Suasana peserta ifthar jama'i 


Peserta Ifthar Jama'i

suasana ketika persiapan berbuka dengan ta'jil 


Persiapan berbuka. Tajil


Ifthar Jama'i DPD PKS Riyadh. Istirahah



By :
twitter : @BungAji
Blog      :  aji.teguh.blogspot.com 



Jumat, 08 Maret 2013

Riyadh dan Sopir Taksi

alriyadh.com

#SerialLivingInRiyadh


Hampir setahun stay di Riyadh membuat saya sedikit banyaknya mengetahui transportasi apa saja yang ada di kota yang saya juluki "Seribu Satu Mesjid" ini. Transportasi di Riyadh didominasi oleh kendaraan pribadi dan Taksi. Bagi yang terbiasa tinggal di jakarta, ibukota dengan sejuta angkot (angkutan kota) semacam KWK (koperasi wahana kalpika) atau bus Metro Mini, yang dengan mudahnya didapati hanya cukup dengan lambaikan tangan di tepi jalan, dan ketika akan turun cukup ketuk langit-langit kendaraan sebagai kode untuk berhenti, pasti akan merasakan culture shock di Riyadh alias kesulitan mencari alternatif transportasi umum.

Pilihannya hanya satu : Taksi. Kalaupun ada bus, transportasi massal ini hanya untuk bepergian antar kota, bukan dalam kota Riyadh.

Sebenarnya ada alternatif, yaitu taksi pribadi, ada warga Indonesia, Bangladesh atau mungkin Pakistan yang bisa kita calling kapan saja sesuai perjanjian. Tapi itu namanya Taksi juga sih, meski beda tipe, dan biasanya tarif nya relatif lebih mahal dari taksi pada umumnya.

Kalau naik Taksi di Indonesia, kita bisa langsung duduk manis dan kemudian sang sopir taksi menyalakan argometer-nya, secara otomatis langsung menyentuh angka Rp.5000, Rp 2500 per kilometer nya, dan dikenakan Rp.25000 per jam kalau Taksi harus menunggu. Tarif ini tentu dengan catatan, tarif bawah lho ya, bukan Taksi Premium semacam Bluebird apalagi Silver Bird.
 
Kalau kita naik Taksi di Riyadh, umumnya ada tawar menawar terlebih dahulu sebelum kita duduk manis di taksi. Jarang sekali kita dapati penumpang Taksi setuju memakai patokan argometer untuk tarif taksi. Menurut pengamatan saya, hal ini terjadi mengingat harga bensin di Saudi sangat murah di dunia, 0.45 SAR (Saudi Arabia Riyal) yang kalau kurs 1 riyal = 2500, maka 0.45 riyal sekitar 1125 rupiah saja. Kalau kita manut sang sopir menggunakan argo nya maka bagi pekerja indonesia yang belum memiliki kendaraan pasti terbebani biaya ongkos nya.

Sopir-sopir taksi di Riyadh didominasi oleh sopir ekspatriat dari Pakistan, dari hasil survei kecil-kecilan saya dengan bertanya langsung sang sopir, saya dapati lebih dari 85% sopir taksi di Riyadh berasal dari Pakistan, dari 85 % itu, saya dapati 90 persen nya dari provinsi Peshawar, Pakistan bagian utara.

"min aina anta" ? (dari mana kamu berasal) tanya saya. "Pakistani" jawab sopir taksi.
"min peshawar?"(dari Peshawar) tanyaku untuk mempertegas. "aiwa" (iya) begitu jawaban sang sopir sambil agak sedikit menggelengkan kepala khas seperti orang India.

Selain Pakistan, ada juga sopir taksi dari bangladesh, Yaman, Suriah atau bahkan ada juga Sopir Taksi dari penduduk Lokal Saudi. Nah, yang terakhir ini sopir favorit saya, karena sopir lokal yang saya temui seringkali murah dalam mentarifkan harga Taksi, bahkan belum lama ini penulis mendapat tarif 20 riyal saja (yang biasanya 30 riyal) dalam perjalanan 30 menit (sekitar 30 KM).

Berbicara kesepakatan harga ketika sebelum naik, seringkali saya harus tarik urat terlebih dulu ketika tawar menawar, khusus nya kepada para sopir Pakistan. Hal ini dikarenakan mereka seringkali mentarifkan harga yang mahal di awal. Jamak bagi budaya di sini, dan sudah seharusnya berlaku dimana-mana, ketika sudah sepakat akan suatu kesepakatan, maka "Haram" bagi kita untuk merombak di akhirnya.

Tak jarang, ketika Taksi sudah berjalan atau ketika sudah tiba di tujuan sang sopir taksi minta tambahan. Pernah, ketika saya mau mengaji bersama teman-teman di daerah Dir'iyah, sekitar 40 KM dari apartemen saya di Daerah Mursalat, diawal sepakat 20 riyal, namun sang sopir merasa jaraknya cukup jauh, maka ia meminta tambahan 5 riyal ketika kami sampai di Tujuan. Kami cuekin aja Sopir itu.

Pernah pula saya naik taksi dengan sopir seorang Pakistan, ia setuju tarif 10 riyal dari pasar Owais ke apartemen saya. Jarak dari pasar ke apartemen hanya 400 meter.  Setiba di depan apartemen ia meminta 20 riyal!.. issh hadzaa..?? (apa-apaan ini)

Alasan si sopir  dengan bahasa arab dan inggris sekena-nya, ia katakan karena saya membawa karpet yang besar dan banyak. Dalem hati saya bicara, siapa suruh ia setuju 10 riyal di awal??. Tapi dalam bahasa arab ammiyah saya katakan "Anta mafi kalam fii awwalun", (Anda ga bilang-bilang sih dari awal).

Yaudah deh saya keluarkan seluruh karpet dari mobil dan bagasi, saya kasih tambahan 2 riyal, dan kemudian saya tutup pintu mobil Taksi dengan baik-baik dikala sang Sopir masih mencerocos tidak jelas. Dua riyal tambahan itu udah baik banget tuh dari saya.. :)

Saya coba memahami hal ini dengan berpikir,bisa jadi karena mereka kebanyakan dari background dengan taraf pendidikan dan ekonomi yang minim, sehingga "nafsu" mengejar setoran begitu besar. Mengingat saya pernah berbincang dengan salah satu sopir dari Pakistan. Pendapatan mereka per-bulan kisaran 3000-hingga 6000 riyal atau 7.5 juta hingga 15 juta Rupiah. Beda dengan sopir lokal saudi, mungkin karena mereka sudah lebih terjamin kehidupan sosial nya dari kerajaan jadi tidak terlalu "bernafsu" mengejar setoran..wallahu'alam deh ya sebenernya kalau mereka mau bersyukur dengan tidak curang seperti menaikkan tarif seenaknya insha Allah rezeki mereka lebih berkah..

Para sopir-sopir ekspatriat di Riyadh ini memang tidak tahu menahu soal bagaimana melayani penumpang dengan baik, pasti pula tidak pernah ada training untuk itu, fokus mereka adalah hanya mencari nafkah dengan menjadi sopir taksi. Dan kita selaku warga asing juga di Riyadh, harus bersikap tegas di awal ketika nasik taksi, kalau sang sopir tidak mau sepakat dengan tarif yang kita tawarkan yasudah tolak aja dengan tegas tanpa perlu merasa gak enak.

Selain pengalaman yang kurang menyenangkan, saya juga pernah merasakan pengalaman ruhani yang cukup langka dengan Sopir Pakistan ini. Pernah suatu ketika sekembali dari Kantor Agent ke kantor saya di STC (Saudi Telecom Company), di tengah perjalanan sang sopir minta menepi untuk sholat ashar berjamaah di Mesjid. Hal ini seumur-umur tidak pernah saya alami. Begitu disiplinnya sang sopir untuk sholat berjamaah di Mesjid. Sungguh hari itu sang sopir ini menjadi  ustadz bagi saya dengan tindakan yang penuh keteladanan itu.

Berbicara pelayanan sopir taksi, kalau hasil survei LondonCabs.co.uk tidak memasukkan Riyadh salah satu kota dalam 10 kota dengan sopir taksi terburuk, maka menurut survei versi penulis yang sudah hampir setahun naik Taksi, kota Riyadh masuk setidak nya ke dalam 11 besar kota dengan pelayanan taksi terburuk..:D

Riyadh, Mursalat, 26 Rabiul Akhir 1434 H  

Senin, 11 Februari 2013

Sendawa dan Local Wisdom




Serial #LivingInRiyadh

Ada betulnya juga ketika Stephen R Covey merumuskan "Karakter seseorang terbangun dari Kebiasaan". Berbicara kebiasaan, dulu saya memiliki sebuah kebiasaan "buruk", setidaknya di beberapa budaya, yaitu bersendawa atau glegean dalam bahasa Jawa.

 Sedari dulu saya paling sering bersendawa setelah makan,  karena tidak ada satupun orang di sekitar saya, baik itu dari keluarga ataupun teman-teman yang menegur saya, maka saya pun menjadi terbiasa. Kebiasaan ini sering terjadi dimana saja saya berada, termasuk ketika saya harus bekerja dan stay di Riyadh. Rasanya lega dan plong gitu setelah Sendawa. Dan akhirnya, ada konsekuensi dari kebiasaan ini.

Ketika stay di Riyadh, saya sering disuguhi menu makan-makanan berdaging dengan minuman bersoda. Kebayang dong, kalau soda tuh salah satu biang nya bikin sendawa. Makanan yang sering saya jumpai beranama Nus Fahm (Nus : setengah porsi Fahm : ayam), yaitu setengah ekor ayam yang dipanggang ditambah roti tipis khas Timur Tengah, Chicken Kabab (ayam panggang yang digiling dibentuk pipih). Minumannya kadang soft drink yang bersoda atau minuman lokal Timur Tengah seperti Mauz bil haalib (mauz : pisang, haalib : susu) atau ada juga minuman yang biasa kami sebut Burtukol (jus jeruk).

Sebulan dua bulan saya menikmati panganan di Riyadh, paling sering makan makanan khas Riyadh itu ketika ghadaa' (lunch) ketika bel istirahat kantor.. emangnya sekolahan pakai bel..

Kenyang setelah makan seringkali saya otomatis sendawa di tempat, ataupun ketika lunch time kelar, sendawa pun masih bersisa ketika saya sudah duduk di cubicle kantor. Hingga pada suatu hari di siang hari yang cukup membara, saya bersendawa "agak kencang", hingga radius..mungkin.. 15-20 meter terdengar dengan jelas suara sendawa saya dengan cetar membahana. Sampai-sampai saya mendengar cekikikan pekerja di sekitar saya di balik bilik-bilik cubicle kantor, ada yang berasal dari Pakistan, india, atau China.

Tapi ada satu teman dari Suriah, ia bernama Aysar Khalid, yang memanggil saya dari bilik cubiclenya "Hi Aji, watch is that (sound)"?, saya pikir ia hanya bertanya biasa ingin recognizing suara macam apa yang barusan saya hasilkan, saya pun hanya tersenyum senyum tanpa merasa "berdosa".

Tepat beberapa detik setelah itu, datanglah orang Arab Lokal yang duduk 5 meter di belakang cubicle saya langsung menegur dengan wajah yang sangat tidak ramah bin asam bin marah. Sambil berbahasa tubuh menunjukkan tenggorokannya, ia berkata suara yang kurang jelas, saya tangkap "your sound, dont do it.." Antena radar saya pun langsung bekerja, pasti itu gara-gara suara sendawa saya. Saya pun secara reflek bilang 'afwan (maaf).." sambil menelungkupkan dua telapak khas orang indonesia.

Keesokan harinya, saya ceritakan kisah ini kepada sahabat dan senior saya yang juga dari Indonesaia yang juga sama-sama bekerja di Managed Service STC (Saudi Telecom Company), mereka pun tertawa. Karena budaya lokal di sini (Arab) sangat tidak berkenan kepada yang namanya Sendawa. Bahkan Zaky, salah satu seniorku bilang, Sendawa lebih tidak sopan daripada "buang angin". weleh... 

Setelah itu kapok deh sendawa, klo udh mau sendawa langsung teringat kejadian di kantor, saya pun langsung menutup mulut, atau minimal banget sendawa tanpa bersuara. Alhamdulillah saya ternyata bisa  menahan suara sendawa :D

by the way, sendawa itu suara atau bunyi yang keluar dari kerongkongan. Sering terjadi kala kita sedang dalam kondisi kenyang dengan kondisi mungkin ada "gas" yang berlebih dari perut kita, bukan senyawa kimia  Sendawa (KNO3 : Kalium Nitrat) yaaa.. :)

Sedari kecil, mungkin banyak dari kita dibiasakan untuk ucapkan hamdalah setelah sendawa, setelah saya cari dimana-mana, tidak ada dalil (Hadits) pengkhususan hal ini. 'Ala kuli hal.. Baiknya memang suara sendawa diminimalisir sekecil mungkin dimanapun kita berada.


Mursalat, Riyadh
11 Februari 2013 / 1 Rabiul Akhir 1434

Chicken Kabab :

Chicken Kabab foto by Aji 










Nus Fahm :
Nus Fahm foto by Aji