Jumat, 08 Maret 2013

Riyadh dan Sopir Taksi

alriyadh.com

#SerialLivingInRiyadh


Hampir setahun stay di Riyadh membuat saya sedikit banyaknya mengetahui transportasi apa saja yang ada di kota yang saya juluki "Seribu Satu Mesjid" ini. Transportasi di Riyadh didominasi oleh kendaraan pribadi dan Taksi. Bagi yang terbiasa tinggal di jakarta, ibukota dengan sejuta angkot (angkutan kota) semacam KWK (koperasi wahana kalpika) atau bus Metro Mini, yang dengan mudahnya didapati hanya cukup dengan lambaikan tangan di tepi jalan, dan ketika akan turun cukup ketuk langit-langit kendaraan sebagai kode untuk berhenti, pasti akan merasakan culture shock di Riyadh alias kesulitan mencari alternatif transportasi umum.

Pilihannya hanya satu : Taksi. Kalaupun ada bus, transportasi massal ini hanya untuk bepergian antar kota, bukan dalam kota Riyadh.

Sebenarnya ada alternatif, yaitu taksi pribadi, ada warga Indonesia, Bangladesh atau mungkin Pakistan yang bisa kita calling kapan saja sesuai perjanjian. Tapi itu namanya Taksi juga sih, meski beda tipe, dan biasanya tarif nya relatif lebih mahal dari taksi pada umumnya.

Kalau naik Taksi di Indonesia, kita bisa langsung duduk manis dan kemudian sang sopir taksi menyalakan argometer-nya, secara otomatis langsung menyentuh angka Rp.5000, Rp 2500 per kilometer nya, dan dikenakan Rp.25000 per jam kalau Taksi harus menunggu. Tarif ini tentu dengan catatan, tarif bawah lho ya, bukan Taksi Premium semacam Bluebird apalagi Silver Bird.
 
Kalau kita naik Taksi di Riyadh, umumnya ada tawar menawar terlebih dahulu sebelum kita duduk manis di taksi. Jarang sekali kita dapati penumpang Taksi setuju memakai patokan argometer untuk tarif taksi. Menurut pengamatan saya, hal ini terjadi mengingat harga bensin di Saudi sangat murah di dunia, 0.45 SAR (Saudi Arabia Riyal) yang kalau kurs 1 riyal = 2500, maka 0.45 riyal sekitar 1125 rupiah saja. Kalau kita manut sang sopir menggunakan argo nya maka bagi pekerja indonesia yang belum memiliki kendaraan pasti terbebani biaya ongkos nya.

Sopir-sopir taksi di Riyadh didominasi oleh sopir ekspatriat dari Pakistan, dari hasil survei kecil-kecilan saya dengan bertanya langsung sang sopir, saya dapati lebih dari 85% sopir taksi di Riyadh berasal dari Pakistan, dari 85 % itu, saya dapati 90 persen nya dari provinsi Peshawar, Pakistan bagian utara.

"min aina anta" ? (dari mana kamu berasal) tanya saya. "Pakistani" jawab sopir taksi.
"min peshawar?"(dari Peshawar) tanyaku untuk mempertegas. "aiwa" (iya) begitu jawaban sang sopir sambil agak sedikit menggelengkan kepala khas seperti orang India.

Selain Pakistan, ada juga sopir taksi dari bangladesh, Yaman, Suriah atau bahkan ada juga Sopir Taksi dari penduduk Lokal Saudi. Nah, yang terakhir ini sopir favorit saya, karena sopir lokal yang saya temui seringkali murah dalam mentarifkan harga Taksi, bahkan belum lama ini penulis mendapat tarif 20 riyal saja (yang biasanya 30 riyal) dalam perjalanan 30 menit (sekitar 30 KM).

Berbicara kesepakatan harga ketika sebelum naik, seringkali saya harus tarik urat terlebih dulu ketika tawar menawar, khusus nya kepada para sopir Pakistan. Hal ini dikarenakan mereka seringkali mentarifkan harga yang mahal di awal. Jamak bagi budaya di sini, dan sudah seharusnya berlaku dimana-mana, ketika sudah sepakat akan suatu kesepakatan, maka "Haram" bagi kita untuk merombak di akhirnya.

Tak jarang, ketika Taksi sudah berjalan atau ketika sudah tiba di tujuan sang sopir taksi minta tambahan. Pernah, ketika saya mau mengaji bersama teman-teman di daerah Dir'iyah, sekitar 40 KM dari apartemen saya di Daerah Mursalat, diawal sepakat 20 riyal, namun sang sopir merasa jaraknya cukup jauh, maka ia meminta tambahan 5 riyal ketika kami sampai di Tujuan. Kami cuekin aja Sopir itu.

Pernah pula saya naik taksi dengan sopir seorang Pakistan, ia setuju tarif 10 riyal dari pasar Owais ke apartemen saya. Jarak dari pasar ke apartemen hanya 400 meter.  Setiba di depan apartemen ia meminta 20 riyal!.. issh hadzaa..?? (apa-apaan ini)

Alasan si sopir  dengan bahasa arab dan inggris sekena-nya, ia katakan karena saya membawa karpet yang besar dan banyak. Dalem hati saya bicara, siapa suruh ia setuju 10 riyal di awal??. Tapi dalam bahasa arab ammiyah saya katakan "Anta mafi kalam fii awwalun", (Anda ga bilang-bilang sih dari awal).

Yaudah deh saya keluarkan seluruh karpet dari mobil dan bagasi, saya kasih tambahan 2 riyal, dan kemudian saya tutup pintu mobil Taksi dengan baik-baik dikala sang Sopir masih mencerocos tidak jelas. Dua riyal tambahan itu udah baik banget tuh dari saya.. :)

Saya coba memahami hal ini dengan berpikir,bisa jadi karena mereka kebanyakan dari background dengan taraf pendidikan dan ekonomi yang minim, sehingga "nafsu" mengejar setoran begitu besar. Mengingat saya pernah berbincang dengan salah satu sopir dari Pakistan. Pendapatan mereka per-bulan kisaran 3000-hingga 6000 riyal atau 7.5 juta hingga 15 juta Rupiah. Beda dengan sopir lokal saudi, mungkin karena mereka sudah lebih terjamin kehidupan sosial nya dari kerajaan jadi tidak terlalu "bernafsu" mengejar setoran..wallahu'alam deh ya sebenernya kalau mereka mau bersyukur dengan tidak curang seperti menaikkan tarif seenaknya insha Allah rezeki mereka lebih berkah..

Para sopir-sopir ekspatriat di Riyadh ini memang tidak tahu menahu soal bagaimana melayani penumpang dengan baik, pasti pula tidak pernah ada training untuk itu, fokus mereka adalah hanya mencari nafkah dengan menjadi sopir taksi. Dan kita selaku warga asing juga di Riyadh, harus bersikap tegas di awal ketika nasik taksi, kalau sang sopir tidak mau sepakat dengan tarif yang kita tawarkan yasudah tolak aja dengan tegas tanpa perlu merasa gak enak.

Selain pengalaman yang kurang menyenangkan, saya juga pernah merasakan pengalaman ruhani yang cukup langka dengan Sopir Pakistan ini. Pernah suatu ketika sekembali dari Kantor Agent ke kantor saya di STC (Saudi Telecom Company), di tengah perjalanan sang sopir minta menepi untuk sholat ashar berjamaah di Mesjid. Hal ini seumur-umur tidak pernah saya alami. Begitu disiplinnya sang sopir untuk sholat berjamaah di Mesjid. Sungguh hari itu sang sopir ini menjadi  ustadz bagi saya dengan tindakan yang penuh keteladanan itu.

Berbicara pelayanan sopir taksi, kalau hasil survei LondonCabs.co.uk tidak memasukkan Riyadh salah satu kota dalam 10 kota dengan sopir taksi terburuk, maka menurut survei versi penulis yang sudah hampir setahun naik Taksi, kota Riyadh masuk setidak nya ke dalam 11 besar kota dengan pelayanan taksi terburuk..:D

Riyadh, Mursalat, 26 Rabiul Akhir 1434 H  

Senin, 11 Februari 2013

Sendawa dan Local Wisdom




Serial #LivingInRiyadh

Ada betulnya juga ketika Stephen R Covey merumuskan "Karakter seseorang terbangun dari Kebiasaan". Berbicara kebiasaan, dulu saya memiliki sebuah kebiasaan "buruk", setidaknya di beberapa budaya, yaitu bersendawa atau glegean dalam bahasa Jawa.

 Sedari dulu saya paling sering bersendawa setelah makan,  karena tidak ada satupun orang di sekitar saya, baik itu dari keluarga ataupun teman-teman yang menegur saya, maka saya pun menjadi terbiasa. Kebiasaan ini sering terjadi dimana saja saya berada, termasuk ketika saya harus bekerja dan stay di Riyadh. Rasanya lega dan plong gitu setelah Sendawa. Dan akhirnya, ada konsekuensi dari kebiasaan ini.

Ketika stay di Riyadh, saya sering disuguhi menu makan-makanan berdaging dengan minuman bersoda. Kebayang dong, kalau soda tuh salah satu biang nya bikin sendawa. Makanan yang sering saya jumpai beranama Nus Fahm (Nus : setengah porsi Fahm : ayam), yaitu setengah ekor ayam yang dipanggang ditambah roti tipis khas Timur Tengah, Chicken Kabab (ayam panggang yang digiling dibentuk pipih). Minumannya kadang soft drink yang bersoda atau minuman lokal Timur Tengah seperti Mauz bil haalib (mauz : pisang, haalib : susu) atau ada juga minuman yang biasa kami sebut Burtukol (jus jeruk).

Sebulan dua bulan saya menikmati panganan di Riyadh, paling sering makan makanan khas Riyadh itu ketika ghadaa' (lunch) ketika bel istirahat kantor.. emangnya sekolahan pakai bel..

Kenyang setelah makan seringkali saya otomatis sendawa di tempat, ataupun ketika lunch time kelar, sendawa pun masih bersisa ketika saya sudah duduk di cubicle kantor. Hingga pada suatu hari di siang hari yang cukup membara, saya bersendawa "agak kencang", hingga radius..mungkin.. 15-20 meter terdengar dengan jelas suara sendawa saya dengan cetar membahana. Sampai-sampai saya mendengar cekikikan pekerja di sekitar saya di balik bilik-bilik cubicle kantor, ada yang berasal dari Pakistan, india, atau China.

Tapi ada satu teman dari Suriah, ia bernama Aysar Khalid, yang memanggil saya dari bilik cubiclenya "Hi Aji, watch is that (sound)"?, saya pikir ia hanya bertanya biasa ingin recognizing suara macam apa yang barusan saya hasilkan, saya pun hanya tersenyum senyum tanpa merasa "berdosa".

Tepat beberapa detik setelah itu, datanglah orang Arab Lokal yang duduk 5 meter di belakang cubicle saya langsung menegur dengan wajah yang sangat tidak ramah bin asam bin marah. Sambil berbahasa tubuh menunjukkan tenggorokannya, ia berkata suara yang kurang jelas, saya tangkap "your sound, dont do it.." Antena radar saya pun langsung bekerja, pasti itu gara-gara suara sendawa saya. Saya pun secara reflek bilang 'afwan (maaf).." sambil menelungkupkan dua telapak khas orang indonesia.

Keesokan harinya, saya ceritakan kisah ini kepada sahabat dan senior saya yang juga dari Indonesaia yang juga sama-sama bekerja di Managed Service STC (Saudi Telecom Company), mereka pun tertawa. Karena budaya lokal di sini (Arab) sangat tidak berkenan kepada yang namanya Sendawa. Bahkan Zaky, salah satu seniorku bilang, Sendawa lebih tidak sopan daripada "buang angin". weleh... 

Setelah itu kapok deh sendawa, klo udh mau sendawa langsung teringat kejadian di kantor, saya pun langsung menutup mulut, atau minimal banget sendawa tanpa bersuara. Alhamdulillah saya ternyata bisa  menahan suara sendawa :D

by the way, sendawa itu suara atau bunyi yang keluar dari kerongkongan. Sering terjadi kala kita sedang dalam kondisi kenyang dengan kondisi mungkin ada "gas" yang berlebih dari perut kita, bukan senyawa kimia  Sendawa (KNO3 : Kalium Nitrat) yaaa.. :)

Sedari kecil, mungkin banyak dari kita dibiasakan untuk ucapkan hamdalah setelah sendawa, setelah saya cari dimana-mana, tidak ada dalil (Hadits) pengkhususan hal ini. 'Ala kuli hal.. Baiknya memang suara sendawa diminimalisir sekecil mungkin dimanapun kita berada.


Mursalat, Riyadh
11 Februari 2013 / 1 Rabiul Akhir 1434

Chicken Kabab :

Chicken Kabab foto by Aji 










Nus Fahm :
Nus Fahm foto by Aji




Rabu, 30 Januari 2013

PKS, Utopis, dan Realistis

from static.skalanews.com

Kita hanya kan bermimpi indah dalam lamunan kalau kita menunggu Jama'ah yang sempurna yang berisikan manusia-manusia sempurna tanpa noda nan suci. Pada kenyataannya,tak ada satupun Jama'ah di dunia ini yang sempurna. Jama'ah yang dibangun oleh Rasulullah-pun tidak luput dari adanya kesalahan shahabatnya.
Masih ingat Ka'ab bin Malik?. ia adalah shahabat Rasul yang khilaf sampai-sampai ketinggalan ketika Perang Tabuk, hingga ia mendapat hukuman dari Rasul,dikucilkan sampai berpuluh hari lamanya.
Lalu Bagaimana dengan zaman ini? sesuai dengan bisyarah yang Rasulullah bawa, kaum Muslimin tersebar berbagai macam Jama'ah dan kelompok. Dipastikan tak ada satupun yang berisikan manusia-manusia suci bak Malaikat. Kita bisa mencari Jama'ah atau kelompok yang paling lebih sedikit mudharat yang dibawa, lebih sedikit orang-orang zhalim yang tergabung di dalamnya. Tiadanya jama’ah sempurna karena Jama'ah yang ada adalah Jama'ah manusia, jama'ah yang berisikan makhluk lemah yang sangat mungkin bisa salah.
Kita hanya kan terlena kalau apa-apa yang seluruh kita yakini adalah finalitas menuju ke Surga tanpa usaha terus belajar dan menerima masukan.
Ketika merasa kebenaran sudah di tangan, maka mudah sekali untuk menyalahkan sedikit saja perbedaan. Padahal bisa jadi ilmu dan pengetahuan kita belum mencukupi sehingga bisa jadi yang beda itu benar adanya. Persoalan perbedaan dalam hal cabang (Tidak prinsip dan tidak mendasar) kita anggap pokokhingga bisa jadi vonis kafir, kufur, musyrik sadar atau tidak terlontar dari lidah kita. Surga-pun hanya bagi yang sepaham kita saja, sedangkan orang-orang yang berbeda dengan kita padahal masih sama dalam hal yang pokok dan mendasar pasti masuk neraka.
Kita jua hanya ter-nina bobokan kalau hanya menunggu dalam diam menunggu pemimpin yang sempurna tanpa cacat turun dari langit, tanpa disertai usaha bersama mendukung pemimpin yang baik dan shalih saat ini. 
Pada kenyataannya, pemimpin akhir Zaman yang kan membawa kedamaian bagi dunia nanti adalah perkara Ghaib, tidak ada satupun yang mengetahui secara tepat kapan hadirnya, bagaimana rupanya, sedangkan saat ini manusia butuh pemimpin yang amanah untuk mengurusi segala Hajatnya, bukan yang harus sempurna tanpa cacat tapi pemimpin yang sanggup untuk komitmen,yang memahami Al Islam sebagai modal terbaik kepemimpinannya.
Parta Keadilan Sejahtera (PKS) dalam Realita
Lahir dari rahim reformasi, partai berbasis Jama'ah Tarbiyah ini berusaha untuk ikut andil mengelola negara Indonesia yang besar ini.
PKS yang merupakan satu-satunya partai beraskan Islam Apakah semuanya bersih dan terbebas dari kesalahan? tentu tidak. Justru kita bakal "ngeri" kalau semua anggota PKS itu bersih dari kesalahan, karena pasti bukan makhluk bernama manusia yang mengisinya.
Berbagai kasus telah mengiringi kiprah PKS, dari yang sifatnya kasus kecil remeh temeh, hingga kasus fitnah besar yang menusuk jantung tubuh PKS. Tapi Allah punya kuasa, Allah masih melindungi Partai ini dari perpecahan tak karuan yang mudah melanda partai lain, ada partai baru yang baru mau mulai perdana pemilu sudah pecah.
Perubahan-perubahan dan kerja yang nyata
PKS tak perlu banyak membuat iklan di TV ataupun baliho besar di pinggir jalan untuk mengusung jargon "Katakan tidak pada Korupsi" ataupun "Calon Presiden harus berani Sumpah pocong untuk tidak korupsi" tapi lebih sibuk untuk bekerja bahwa partai ini memang anti korupsi dengan terbuktinya hasil dari penelitian ICW, bahwa PKS dan Hanura paling bersih dari korupsi pada tahun 2012 kemarin.
UU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang sarat akan nilai perbaikan akhlak masyarakat, , UU Perbankan Syariah dimana perekonomian berbasis syariah mendapat payung hukum di Indonesia RUU Jaminan Produk Halal yang ingin melindungi Ummat Islam (yang mayoritas di Indonesia) agar mengkonsumsi produk-produk halal sesuai dengan aturan Islam yg saat ini sedang diperjuangkan PKS,  dan sederet UU lainnya dimana PKS sebagai motor penggera utama menggolkan UU dengan nilai-nilai dan harapannya ingin melahirkan masyarakat madani.  
PKS tidak hanya meneriakkan jargon-jargon perubahan dan restorasi, juga tak perlu mengadakan berbagai seminar untuk mengoreksi berbagai kebijakan pemerintah, tapi terjun langsung dengan berpartisipasi aktif dalam pemerintah dan melakukan perubahan nyata disana.
Tanpa meninggalkan Socio-culture, PKS juga tetap bergerak di ranah masyarakat bawah, meningkatkan kualitas kaum perempuan, meningkatkan kualitas pendidikan, meningkatkan pemberdayaan ekonomi. Tak ketinggalan juga kita bisa lihat bagaimana sedikit demi sedikit Gubernur Jabar (kader dari PKS) Ahmad Heryawan mengadakan pengajian rutin di lingkungan pemprov. Semua memang berawal dari hal yang kecil dan sederhana.  Mari kita lihat Kaidah Ushul :                                                   من لا يدرك كله لا يترك كله
(Mâ la yudraku kulluhu la yutraku kulluhu) “Jika tidak bisa meraih semuanya, jangan tinggalkan semuanya”
Memang pencapaian yang ada masih belum sempurna dan lengkap..tapi jangan sampai kita tinggalkan semuanya.
Kerja nyata PKS juga bisa dirasakan baik dalam kondisi normal atau dalam kondisi bencana. Dikala banyak pihak berdebat mengenai apa penyebab banjir Jakarta, berdebat apakah harus pindah Ibukota, tapi kader-kader PKS secara konkrit terjun ke tiap-tiap sudut kota yang kebanjiran untuk membantu korban banjir, dari pembagian nasi bungkus hingga membangun posko-posko bantuan banjir. Apakah aksi ini hanya menjelang pemilu? alhamdulillah tidak.
Dari aksis baksos (bakti sosial), aksi-aksi P2B (Pos Penanggulangan Bencana), semuanya tak mengenal momentum apakah pemilu atau pilkada. Aksi-aksi PKS yang secara nyata ini, memaksimalkan fungsi dan perannya dalam Political Communication dan Political Socialization. Bagaimana PKS membangun komunikasi dan sosialisasi politik yang positif dan konstruktif di tengah derasnya arus pesimisme yang melanda masyarakat kepada partai politik di Indonesia.
Di tengah kondisi maraknya Praktik korupsi di segala lini, riba merajalela, Narkoba menjamur dari rakyat bawah, artis-artis, hingga pejabat, pergaulan bebas dan permisif, liberalisasi di berbagai sector, dari sosial, pendidikan, hingga budaya, semua ini ummat membutuhkan perubahan yang nyata, ummat membutuhkan pemimpin yang kuat dan amanah . Maka tak layak bagi kita untuk meninggalkan kondisi ini dengan menunggu hingga pada akhirnya dikuasai oleh Pihak-pihak serakah yang menggerogoti bangsa. Ummat juga membutuhkan kerja nyata dan konsisten yang tidak hanya yang bersifat musiman.
So, apakah kalian mau terus bermimpi sambil menunggu dalam diam atau bergerak dan bekerja dalam realita atau setidaknya mendukung usaha perbaikan yang nyata?


Aji Teguh Prihatno
Mursalat, Riyadh, 17 Rabiul Awwal 1434

Selasa, 08 Januari 2013

KTP itu Bernama Iqama


Sama seperti yang dilakukan oleh para pekerja yang bekerja di Saudi, semua pekerja kudu musti mengurus dokumen Iqama. Iqama, atau kita sebut KTP (kartu tanda penduduk) adalah kartu wajib bagi yang stay di Saudi Arabia, sekali anda ditemukan dalam keadaan tanpa dokumen identitas (passport atau Iqama) bakal berabe urusan dengan petugas kepolisian.

Saya yang saat itu telah tiba beberapa hari di Saudi dengan sigap mengurus iqama. Dahulu sebelum sistem sebagus sekarang mengurus iqama bisa sampai berbulan-berbulan atau bahkan bertahun-tahun, alhamdulillah saya ga sampe segitu lama nya. cukup setelah tiga bulan saja stay di Riyadh, iqama pun di tangan..itu mah berbulan-bulan juga ya..

Seharusnya sebulan pun cukup untuk mengurus Iqama, namun saya butuh waktu lagi karena harus mengurus dokumes SCE terlebih dulu sebelum mengurus iqama. SCE (Saudi Council Engineering) itu semacam sertifikasi halal #eh sertifikasi resmi dari pemerintah Saudi kepada seluruh pekerja yang status pendidikannya lulusan Teknik atau disebut engineer atau dalam bahasa arab disebut Muhandis. Dengan membayar sebesar 1250 riyal kita sudah dapat mendaftar dan mendapatkan sertifikat SCE. Kalau saya rasa ga ngefek juga sih adanya SCE, cuman dapet selembar kertas aja..hehe..

Sungguh saya termasuk orang yang...hadeeh.. males banget deh ngurus-ngurus dokumen ini itu. Ketika melihat situs online SCE nya saja, mata sudah ogah begini buat ngisi-ngisi dokumen begituan..Tapi, dengan bismillah..Kuatkan tekad sekuat baja, mulailah saya mengisi satu persatu via online pra-syarat untuk request SCE, dari translasi ijazah dan transkrip dalam bahasa arab hingga beberapa dokumen lain.

Dengan tekun satu persatu saya submit dokumen-dokumen yang telah di-scan ke situs online SCE. dan ternyata statusnya failed terus karena ukurannya bermasalah, saya edit-edit lagi supaya pas dan alhamulillah statusnya submitted.

Saya menerima sms notifikasi agar menunggu kabar selanjutnya, seminggu saya tunggu kabar dari SCE tidak ada kabar juga, akhirnya saya ke kantor SCE. Secara, belum bisa bahasa arab ke pergi sendirian ke kantor di saudi. saya tertolong karena ada supir panggilan dengan status free lance driver dari seorang berkewarganegaraan Bangladesh yang mampu berbahasa melayu, Hanan namanya, jadi saya menyewa beliau untuk ke kantor SCE.

Setelah tiba di kantor SCE diantar Hanan, mereka katakan untuk tunggu beberapa hari lagi nanti dikirimi oleh mereka sms notifikasi. Keesokan harinya, sms pun saya terima tapi gagal man teman..hiks hiks.. isi notifikasinya ada yang kurang dari dokumen-dokumen yang saya submit.. :(

Akhirnya, saya coba submit ulang dengan dokumen yang persis sama tidak ada penambahan dan pengurangan, tiga hari kemudian berhasil. aneh kan?

Kemudian, saya datang lagi ke kantor SCE dan alhamdulillah wa syukurilah dokumen didapat.
setelah sehelai kertas SCE itu saya dapat saya kirim ke agent saya untuk diurus ke jawazat, kantor pembuatan Iqama. dua hingga tiga minggu kemudian (awal agustus) Kartu Iqama saya pun di tangan.

Mursalat, Riyadh

-LivingInRiyadh seri 2

Jumat, 21 September 2012

Zabalatul Afkar (Sampah Pemikiran) : Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme Agama

Zalabalatul Afkar. majalahfiqih.wordpress.com



“Para ulama Al Azhar menganggap kebanyakan pemikiran orang-orang liberal itu sebagai zabalatul afkar(sampah pemikiran)” ~Ustdz Habiburahman El Shirazy
Saya masih teringat kala masih duduk di bangku SMP, salah seorang guru berkata, “Pada dasarnya, semua agama itu sama, semua agama mengajarkan kebaikan”. Saat itu, dengan keterbatasan ilmu dan wawasan dalam hati saya “mengiyakan”.Saat itu, dengan level pemikiran anak SMP, saya pikir “iya juga ya..mana ada agama ngajarin kejahatan?”.
Namun kini, ketika Allah telah menganugerahkan pemahaman ilmu agama dan wawasan, betapa bathil nya pernyataan itu dari segi Aqidah Islam. Kenapa? jelaslah Agama yang bagi saya dengan keyakinan Islam hanyalah islam saja yang mengajarkan kebaikan, karena hanya Islam yang mengajarkan kepada pemeluknya untuk menyembah Allah saja dengan mengikuti praktik peribadatan yang dicontohkan Rasulullah Shallahu’alaihi Wa Sallam. Apakah ada agama lain yang mengajar persis 100% seperti ini?.
Seluruh Ummat Islam seharusnyalah meyakini hanya Islam yang benar dan baik, selain agama Islam tidak menyuruh menyembah Allah dan mengikuti contoh Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi Wa Sallam.
Itulah salah satu contoh bentuk Zabalatul Afkar (sampah pemikiran) yang telah merasuki dunia kita sehari-hari. Itulah pemikiran yang kita kenal saat ini dengan sebutan Plularisme. Paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama, menuju Tuhan yang sama. Na’udzubillah.
Dalam kesempatan ini, penulis akan mencoba membahas isme yang sangat berbahaya bagi Aqidah Ummat Islam yang harus dibersihkan dari tubuh Ummat, karena ia adalah Zabalatul Afkar (sampah pemikiran) :
Sekularisme
Ketika agama hanya berada di tempat-tempat Ibadah, hanya ada di mesjid, hanya ada di majelis-majelis ta’lim, semua Ummat Islam tidak boleh membawa urusan dan istilah-istilah agama pada ranah umum apalagi pemerintahan, urusan negara adalah urusan manusia, semua diurus sesuai dengen kehendak para pejabat pemerintahnya hanya berdasar konsensus, itulah sekularisme, sebuah pemikiran (yang banyak negara-negara di Dunia ini masih menerapkannya) yang memisahkan urusan dunia dari agama.
Pemikiran ini sangat bertolak belakang dari ajaran Islam, karena Islam satu-satunya agama yang mengatur seluruh sendi kehidupan, dari urusan individu, urusan keluarga, urusan masyarakat, hingga urusan berbangsa dan bernegara.
Sedangkan sekularisme berusaha mengebiri ajaran Islam yang menyeluruh dan sempurna ini, dengan menempatkan ajaran islam hanya di mesjid saja, agar ketika orang keluar dari mesjid maka kehidupannya bebas tak perlu mengikuti aturan agama alias murtad. Karena di mesjid ia sholat menyembah Allah, namun di ketika berinteraksi di ranah umum ia sangat bisa jadi menyembah “Tuhan yang lain” bahkan bisa menjadi atheis !.
Pemikiran sekularisme ini menghendaki para muslimah menutup aurat ketika sholat saja, ketika di majelis ta’lim saja, keluar dari sana muslimah haruslah menanggalkan auratnya, karena tempat umum bukanlah tempat untuk beragama. Karena pemikiran Sekularisme pula Ummat Islam juga tidak boleh berbicara dengan merefer kepada Al Quran (bahkan meski berbicara di mesjid)!.
Jadi, dengan Sekularisme Ummat Islam dipaksa untuk meyakini sebagian saja ajaran Islam dan mengingkari bagian yang lain yang bertentangan dengan firman Allah :
“..Adakah kamu percaya (beriman) kepada sebahagian kandungan Kitab (al-Quran) dan ingkar akan sebahagiannya?” (QS. Al-Baqarah: 85)
Ketika Pemikiran Sekularisme ini telah merasuk ke seluruh para aparatur dan pejabat negara, ke seluruh pendidik di negeri ini, ke seluruh elemen bangsa maka yang  terjadi adalah perusakan sendi-sendi agama, tak dilaksanakannya ajaran Islam secara menyeluruh. Sekularisme menghendaki supaya Ummat menghadapi problema di ranah umum (negara) maka Ummat pasti kebingungan karena sandarannya bukan Al Islam namun akal.
Tepat sekali pernyataan Imam Hasan Al Banna tentanga syumuliatul Islam (islam menyeluruh) yang bertolak belakang pemikiran sekularisme :
“Islam adalah negara dan tanah air, atau pemerintahan dan umat, ia adalah akhlak dan kekuatan, atau kasih sayang dan keadilan, ia adalah wawasan dan perundang-undangan, atau ilmu pengetahuan dan peradilan, ia adalah materi dan kekayaan, atau kerja dan penghasilan, ia adalah jihad dan dakwah, atau tentara dan fikrah, sebagaimana ia adalah akidah yang bersih dan ibadah yang benar.”
Pluralisme
Meski tidak ada definisi yang jelas akan arti dari pluralisme, namun sudah ada kesamaan pandangan dari para pendukung pemikiran ini bahwa paham pluralisme meyakini semua agama adalah jalan-jalan yang sah menuju tuhan yang sama. Paham ini juga menyatakan, bahwa agama adalah persepsi manusia yang relatif terhadap Tuhan yang mutlak.
Sehingga, karena relatif, maka seluruh agama tidak boleh mengklaim atau meyakini bahwa agamanya yang lebih benar dari agama lain atau meyakini hanya agamanya yang benar.
John Hick, salah satu tokoh penting dalam wacana Pluralisme, dalam bukunya “God Has Many Names”, menganalogikan teori Heliosentris sebagai konsep pluralismenya.
Dimana Teori Heliosentris menyebutkan bahwa matahari sebagai Pusat Tata Surya yang dikelilingi Bumi, begitu pula Tuhan adalah Matahari-nya, sumber asli dari cahaya dan kehidupan, yang semua agama bercermin pada-Nya, dengan cara-cara mereka yang berbeda-beda (He is the Sun, the originative source of light and life, whom all the religions reflect in their own different ways), dari sinilah Hick mengajak Ummat manusia untuk beralih dari Religion-Centredness kepada God Centredness.
Senada dengan Hick, Mahatma Gandhi juga menyerukan konsep Pluralisme :
“Agama adalah ibarat jalan yang berbeda-beda namun menuju titik yang sama. Apakah kita menempuh jalan yang berbeda-beda, selama kita sampai di tujuan yang sama, tentu tidak menjadi masalah. Pada kenyataannya, mungkin banyaknya agama sama dengan banyaknya individu”
Dari isinya, paham pluralisme jelas sekali bertentangan dengan ajaran Islam yang hanya mengakui Agama Islam saja yang diakui Allah. Kita dapat melihat pertentangan paham ini dari ayat :
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”(QS. Ali Imran [3]: 85)
Dalam Al Tafsir al Muyassar, “Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam (bermakna berserah diri kepada Allah dengan Tauhid, tunduk kepada-Nya dengan ketaatan dan penghambaan, serta tunduk kepada Rasulullah dengan mengimaninya, mengikutinya dan mencintainya secara lahir dan batin), Maka tidak akan diterima agama itu darinya dan di akhirat termasuk orang yang rugi, tidak mendapatkan bagian untuk dirinya.
Bagi orang - orang yang beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad, tidaklah mungkin mengatakan semua agama itu sama, Logika nya, satu-satu nya agama yang mengajarkan kepada Ummatnya untuk menyembah Allah Subhanahu Wata’ala saja (dengan sifat-sifat-Nya dijelaskan khusus dalam Al Quran dan Hadits)  dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad dalam seluruh sendi kehidupan hanyalah Islam. Sedangkan agama lain berbeda ajarannya tidak menyembah Allah dan tidak mengikuti Nabi Muhammad, bagaimana dikatakan sama?
Seperti yang penulis ceritakan di awal tulisan, paham pluralisme yang telah merasuki dunia pendidikan sangat bisa jadi telah merambah ke berbagai bidang kehidupan lain. Inilah bahaya pluralisme, banyak Ummat Islam bisa keluar dari agamanya tanpa sadar ketika sudah meyakini dan membenarkan paham pluralisme ini, sehingga membuat banyak Ummat Islam batal syahadat-nya akibat dari meyakini plularisme yang berimplikasi meyakini kebenaran Tuhan versi ajaran agama lain.
Liberalisme
Liberalisme agama menginginkan tiap tiap individu mengeyampingkan ajaran agama, mengutamakan kebebasan pribadi dalam menjalankan kehidupan atas nama HAM (hak asasi manusia), pernikahan sejenis yang pada hakikatnya penyakit dan penyimpangan seksual diperbolehkan dan dianggap HAM, bertelanjang di publik dianggap sebagai HAM, pornografi yang jelas-jelas merusak dianggap sebagai HAM, penodaan agama Islam dengan gerakan Nabi palsu, ajaran Ahmadiyah dengan Nabi Mirza Ghulan, ajaran Syiah yang merubah Aqidah Islam, bahkan hingga penodaan kepada Nabi Muhammad juga dianggap sebentuk HAM!.
Term “Liberal” yang bermakna bebas lepas, tidak bisa disandingkan dengan “Islam” yang bermakna keselamatan atau ketundukan dan kepatuhan kepada Allah. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis mengajak kepada seluruh Ummat Islam menolak konsep “Islam Liberal” karena pemikiran ini mereduksi bahkan meruntuhkan sendi ajaran ISlam yang sudah sempurna, seperti kita lihat dari situs resmi Jaringan Islam Liberal yang ada di Indonesia, dapat kita lihat landasan pemikiran ini :
“Islam Liberal percaya bahwa ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), dan ilahiyyat (teologi)
Mari kita liat dengan seksama, pemikiran JIL sudah masuk untuk ber-Itjihad dalam segi ilahiyyat (teologi)!, artinya kalau hari ini JIL meyakini Allah Subhanahu Wa ta’ala sebagai Tuhan, bisa jadi suatu hari Tuhan akan berganti bukan Allah lagi, entah siapa saja bisa “di-Tuhan-kan” !!!.
Dalam Hukum Islam, tidak ada perdebatan dan tidak ada perselihan jika menyangkut hal-hal yang sudah pokok (ushul) atau lazim kita sebut dengan Absolut, seperti persoalan uluhiyat kepada Allah. Ketauhidan, Aqidah, Rukun Iman, Rukun Islam, Sifat-sifat Allah, macam-macam peribatan kepada Allah tentu hanya apa yang sudah termaktub dari Al Quran dan Al Hadits saja, tidak ada pintu sama sekali untuk berijtihad dalam hal ini.
Keabsolutan Syariah Islam karena konsep nya Mutawatir (para periwayat nash mustahil bersepakat untuk berdusta), Ijma’ (kesepatakan para ulama), dan Qat’i al dalalah, nash yaitu Al Quran dan Al Hadits, yang menunjuk pada makna tertentu yang tidak mengandung kemungkinan untuk dita’wil [dipalingkan dari makna asalnya] dan tidak ada celah atau peluang untuk memahaminya selain makna tersebut).
Selain itu untuk dapat ber-itjihad begitu banyak syarat yang harus dipenuhi (seperti mengusai Hukum-hukum yang ada dalam Quran dan Al Hadits, yang pasti tentu juga Hapal Quran dan ribuan hadits, menguasai bahasa arab serta akhlak dan ibadahnya harus terjaga dengan standar yang ketat yang diakui oleh para Ulama).
Bagaimana mungkin orang yang jarang sholat, jarang baca quran, hanya hapal beberapa surat pendek di Juz Amma dapat menafsirkan quran, hadits bahkan berijtihad??! inilah penyimpangan dari paham islam Liberal yang digawangi JIL (di Indonesia).
Mari bersih bersih
Selayaknya sampah di rumah kita yang kalau tidak dibersihkan akan menyebabkan bau tak sedap bahkan penyakit, demikian pula pemikiran-pemikiran Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme agama yang merupakan sampah pemikiran di tengah-tengah Ummat kita, jangan pernah berhenti untuk memberikan informasi dan pemahaman kepada Ummat bahwa pemikiran ini berbahaya untuk dunia dan akhirat.
Sampah pemikiran yg menyatakan semua agama adalah sama, sampah pemikiran menyatakan mencium bukan wanita adalah sedekah, sampah pemikiran menyatakan AL Quran perlu di  revisi, sampah pemikiran menyatakan jilbab adalah situasional seperti halnya swimsuit, sampah pemikiran yang menyatakan manusia berasal dari spesies kera, sampah pemikiran yang membolehkan semua orang berhak menafsirkan quran,hadits,dan berijtihad, sampah pemikiran yang menyatakan agama adalah hasil budaya manusia, sampah pemikiran yang menyatakan semua orang bisa menjadi Nabi, Sampah pemikiran yang menyatakan penghinaan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam adalah HAM!,
Sampah pemikiran yang akan terus menerus meracuni dan merusak Ummat Islam kalau didiamkan.
Fatwa MUI pun sudah memutuskan “Pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama” adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.
Pantaslah ketika saya berbincang kepada Ustadz Habiburrahman (seorang da’i dan penulis) beliau mengatakan sebutan yang pantas disematkan/disandang pemikiran Sepilis adalah Zabalatul Afkar (sampah pemikiran).
==========================================================================
Ref :
Akmal Sjafril, “Buya Hamka antara Kelurusan Aqidah dan Pluralisme”
Fatwa Majelis Ulama Nomor:7/MUNAS VII/MUI/11/2005 Tentang Pluralisme, liberalisme, dan Sekularisme Agama
http://syariahonline.com/v2/fatwa/mui/1927-pluralisme-liberalisme-dan-sekularisme-agama.html
http://muslim.or.id/manhaj/pluralisme-agama-trend-pemikiran-semua-agama-adalah-sama.html
http://www.hasanalbanna.com/prinsip-pertama-kesempurnaan-islam-2/ _Hasan Albanna
http://www.muslimdaily.net/artikel/ringan/4930/ide-sesat-sekularismepluralisme-dan-liberalisme
http://www.scribd.com/doc/50639623/32/Syarat-syarat-Ijtihad
http://media.isnet.org/isnet/Nadirsyah/ijma.html
http://fr.twitter.com/h_elshirazy/status/143500398232223745
http://islamlib.com/id/halaman/tentang-jil

Selasa, 19 Juni 2012

7 Jam Saja


Tak terasa sebulan saya sudah stay di Salah satu negara Timur Tengah, Saudi Arabia. Benar kata pepatah, "waktu itu pasti terus berlari dengan cepat!", (jangan tanya pepatah dari mana, barusan saya yang buat ^_^). Pada momen ini masih lekat pada ingatan saya bagaimana pertama kali tiba di negara ini sebulan yang lalu.

Jadi begini ceritanya.. *dan kemudian suara angin berdesir, jangkrik, dan suara kodok bersaut2an..*

Setelah menempuh perjalanan sekitar hampir 12 jam, Alhamdulillah sampailah saya di tanah jazirah Arab, saya mendarat di Bandara King Khalid International Airport di kota Riyadh. Sebagai orang yang pertama kali menjejakkan kaki di Timur tengah, sendirian pula, saya mengalami rasa penasaran yang besar dan banyak pertanyaan dalam benak, kalut, gelisah, dan juga galau.. *lebay banget*..  seperti pertanyaan kemana dulu  setelah turun dari pesawat, kemudian setelah keluar dari bandara bagaimana suasana kota Riyadh, dan seterusnya dan seterusnya. Sendirian masuk bandara di negeri orang kali pertama sesuatu banget rasanya.

Alhamdulillah, saya memiliki teman yang sangat baik, Ilden namanya, dia menelponku bahwa ia sudah tiba di Bandara untuk menjemput saya, saat itu pukul tiga pagi, secara..pukul tiga pagi! anugerah banget saudara-saudara punya sohib seperti beliau, udah gitu beliau High Quality Jomblo lhoo.. (dibayar berapa nih ane sama ilden..hehe). Aku yang sedang membawa koper dengan penuh suka cita dan optimisme, sambil menerima telpon darinya kukatakan kepada sahabatku itu untuk menunggu sekitar mungkin beberapa menit lagi keluar bandara karena harus masuk ke bagian imigrasi.

Tibalah aku di antrian untuk imigrasi, ternyata sudah ada ratusan orang disana, dari berbagai etnis dan bangsa. Afrika, India, China, dan entah dari bangsa mana. Mayoritas India. Aku katakan kepada Ilden melalui sms, mungkin sejam keluar dari bandara karena cukup banyak yang di antrian imigrasi ini.
Sejam menunggu pun terlihat tidak ada perkembangan berarti, posisiku masih di antrian belakang, kupun sholat shubuh terlebih dulu. Setelah sholat kembali ke antrian, setelah menunggu sejam lagi, tidak ada pula  kemajuan dalam barisan ini. Ada apa gerangan sampai terasa lama ya antrian ini? ada perasaan yang tidak enak menggelayuti diri.

Dua jam berikutnya hanya sekitar beberapa meter aku maju. Masya Allah, sudah 4 jam antri tidak ada perkembangan!. Aku terus memberitahu kawanku itu bahwa antrian imigrasinya begitu lama. Aku hendak berusaha melihat-lihat counter imgrasi ingin tahu apa yang terjadi kenapa begitu lama proses imigrasi ini. Pastinya, rasanya ga enak banget kepada sahabatku yang sudah nunggu empat jam lamanya. 

Setelah aku berusaha melongok lebih dekat ke arah para petugas imigrasi, ternyata oh ternyata, para petugas imigrasi ini begitu terlihat santai nya melayani para warga yg ingin diproses, rekam sidik jari dan foto. KUlihat mereka sambil merokok, sambil mengobrol, sambil pegang-pegang hape, bahkan mondar mandir tidak jelas.

Di jam kelima aku menunggu ada kejadian yang cukup luar biasa menguji kesabaran, barisanku diselak oleh satu barisan wanita dari Afrika, mungkin TKW dari afrika ya..positif thinking ku mungkin karena mereka wanita jadi didahulukan.. oke gapapa deh pikirku saat itu..

Bertambah pula menunggu sejam. dan tiba-tiba sang petugas keluar dan menutup counternya tanpa ada yg berjaga disitu. "Heii, mau kemana loe? gue udh nunggu 6 jam dimari loe malah keluar ga ada yg gantiin..apa-apaan ini??" teriakku dalam hati, dan posisiku saat itu sudah nomor dua dalam barisan. Kebayang kan betapa dongkol nya saat itu.

Di jam 6.5 kembali barisanku diselak oleh 3 wanita afrika karena diininstruksi oleh petugas, oke deh gpp.. sambil muka manyun..dan.. Alhamdulillah di jam ke 7 lebih 3 menit 23 koma 5 detik.. (agak didramatisir), aku masuk ke counter untuk di rekam sidik jari dan difoto, terima 10 angka entry number and done. ga lebih dari 3 menit!.

Coba bayangkan man teman..bayangkan..kalau itu para petugas kerjanya bener ga pakai merokok, mengobrol, mondar mandir..insya Allah tidak sampai tiga jam saya mengantri.

Ada beberapa hikmah dari peristiwa menunggu antrian selama 7 jam ini. Pertama, yang pasti saya jadi banyak-banyak istighfar ketika rasa kesabaran sedang diuji seuji-ujinya. Kenapa baik untuk banyak istighfar? Karena selain memohon ampunan atas segala dosa kita, istighfar juga dapat mendatangkan kegembiraan seperti hadits dari Rasul Shallallaahu 'alaihi wa sallam :

"Barang siapa yang selalu beristighfar,maka Allah akan menjadikan keluhkesah kegembiaran,kesempitan menjadi keleluasaan" [HR.Ahmad & Abu Daud]

Kedua, karena saya orangnya selalu berorientasi pada perbaikan, maka saya jadi terpikir bagaimana cara membuat sebuah pelayanan imigrasi itu baik, kepada siapapun, baik itu orang kulit hitam atau putih, kepada kelas atas atau kelas para buruh pekerja. Intinya, sebentuk pelayanan untuk kepentingan masyarakat umum itu adalah kewajiban seorang pemimpin untuk melayani. 

Sistem yang sudah baik harus ditopang oleh personal yang baik pula. kalau semua petugas disiplin, antusias, cekatan, insya Allah saya yakin pelayanan akan jauh lebih baik dan lebih cepat. Saat itu saya jadi terpikir ga mungkin membawa keluarga (anak istri) ke Riyadh mengingat pelayanan imigrasi yang kurang oke, tapi belakangan informasi yang saya dapat dari senior yang sudah lama bekerja dan stay disini, petugas imigrasi di Riyadh sangat welcome terhadap keluarga yang membawa anak istri, jadi mestinya didahulukan. Alhamdulillah deh seneng denger nya, berarti ada sisi baiknya juga ya para petugas imigrasi disini.
 
Selepas dari bagian imigrasi yang cukup menguji kesabaran iman dan taqwa itu aku memasuki wilayah bagasi untuk ambil koper. Setelah puaing -pusing (muter-muter) selama lima menit saya dapatkan koper saya dan sahabatku sudah menunggu di luar bandara. Sambil tersenyum kutanya sahabatku yang tersenyum menyambutku, "Berapa lama kawan kau menungguku? 7 jam saja. :)

*Kepada sahabatku ilden, terima kasih atas segalanya my brother, your kindness will be never forget.. i owe you much.. :)







 



 

Senin, 11 April 2011

Poetry from Rumi

I’m neither beautiful nor ugly
neither this nor that

I’m neither the peddler in the market
nor the nightingale
in the rose garden

Teacher give me a name so that I’ll know
what to call myself

I’m neither slave nor free neither candle
nor iron

I’ve not fallen in love with anyone
nor is anyone in love with me

Whether I’m sinful or good
sin and goodness come from another
not from me

Wherever He drags me I go
with no say in the matter

(Jalaluddin Rumi)